”Hanyalah yang memakmurkan masjid-masjid Allah ialah orang-orang yang beriman kepada Allah dan hari kiamat.” (QS at Taubah [9]: 18)
Cara memakmurkan masjid adalah dengan menjadikan masjid tidak sekedar sebagai tempat ibadah semata, tapi juga memfungsikan untuk sarana pemberdayaan masyarakat.
Pada masa kenabian, masjid menjalakan multi fungsi antara lain sebagai kegiatan umat bahkan sampai kegiatan pemerintahan. Masjid digunakan pula dalam penyusunan strategi perang, simulasi ketangkasan prajurit, pelantikan duta Islam. Masjid bahkan memiliki baitul maal , lembaga pengelola keuangan bagi peningkatan kesejahteraan masyarakat, khususnya kaum dhuafa. Masjid juga merupakan pusat kajian keagamaan dan berbagai masalah non keagamaan, pendek kata, segala urusan sosial kemasyarakatan dikendalikan dapat dilakukan di masjid.
Di Indonesia, jumlah masjid dan mushala saat ini mencapai 700 hingga 800 ribu buah, namun kecenderungan masjid masa kini justru jauh dari fungsi sejatinya. Hasil survei yang diselenggarakan Litbang Republika mulai 14 Mei hingga 13 Juni 2009, survei dilakukan melalui situs Republika on Line (RoL), sebanyak 83,5 persen responden tidak sependapat jika masjid hanya digunakan sebagai tempat ibadah makhdhoh saja. Bahkan sebanyak 84,2 persen memandang perlu dan bahkan sangat perlu masjid digunakan sebagai tempat kegiatan non-keagamaan.
Oleh karenanya, fungsi masjid perlu dioptimalkan utamanya dalam menyelenggarakan kegiatan-kegiatan sosial kemasyarakatan.
.
TAMAN PENDIDIKAN AL QUR’AN = TAMAN PENDIDIKAN ANAK
Di desa desa, Surau, Musholla, masjid merupakan pusat kegiatan bagi anak anak memperdalam ilmu keagaman membaca al qur’an. Hampir tiap sore anak anak desa dengan wajah yang polos, segar setelah selesai mandi mereka berkumpul bersama di surau, musholla atau masjid desa untuk ”mengaji”.
Dalam prespektif yang lebih luas ”mengaji” = meng – kaji yang artinya mempelajari, jadi pelajaran sebenarnya yang harus diberikan tidak sekedar pelajaran membaca Al Qur’an, tetapi juga membaca semua tanda tanda kebesaran Allah SWT dengan ilmu pengetahuan. Jadi adalah hal yang pantas dikembagnkan TPA bukan sekedar Taman Pendidikan Al Qur’an tatapi lebih menjadi Taman Pendidikan Anak.
.
LEBIH BAIK BUKAN SEKEDAR BUKU AGAMA
Buku adalah pengusung peradaban, buku adalah pencatat sejarah, menyampai keindahan sastra, pengembang ilmu dan pemikiran.
Buku erat kaitannya dengan membaca , tanpa “membaca”, manusia akan mengalami stagnasi dan kejumudan berpikir.
Anak anak desa di Indonesia saat ini sangat memprihatinkan dalam akses buku dan minat baca karena buku masih menjadi barang mewah untuk mereka.
.
SEMANGAT KAMI MENGAJAK ANDA
Dengan semangat untuk ikut mencerdaskan kehidupan anak anak desa nusantara dan didorong keinginan menumbuhkan minat baca anak, Relawan Desa Nusantara berkeinginan memerikan kemudahan akses Anak Anak Desa Nusantara pada Buku Bacaan
Untuk itu semua, kami mengajak kawan, saudara, sahabat yang berlimpah kebahagiaan untuk menyebar luaskan semangat kami pada seluruh sanak kerabat handai taulan seluruh Indonesia untuk merintis taman bacaan anak di tempat ibadah desa sekitar anda.
Atau dengan menyumbangkan buku bacaan anak anak baik baru maupun yang sudah tidak terpakai dapat dilakukan dengan menghubungi Pengurus Pusat Relawan Pemberdayaan Desa Nusantara ( PP RPDN )
Alamat :
Gedung Relawan Bangsa,
Jl Saharjo 40 Manggarai Jaksel
Hub : Ibu Rahma di 021 8378 5495
.
Kami Hanya Menerima Bantuan Buku, Kami Siap Jemput Untuk Wilayah Jakarta
Anda Membantu, Kami Mendistribusikan…







