JAKARTA, — Sumber energi baru kembali ditemukan. Kali ini energi tersebut ada pada tanaman yang mudah tumbuh di mana saja, yaitu singkong. Tak tanggung-tanggung, tanaman ini ternyata memiliki energi yang mampu menggerakkan mobil.
Krisis butuh langkah strategis
Berdasar isu kritis seperti ini mendasari Suryokoco Adiprawiro ketua PP RPDN yang tergabung dalam Komite Nasional Masyarakat Indonesia (KNMI) berusaha lebih mengenalkan teknologi bahan bakar etanol berbahan dasar singkong.
“Singkong merupakan tanaman yang mudah didapat dan minim perawatan,” papar Suryo menjelaskan alasan pemilihan singkong. pun tak perlu daerah tertentu untuk menanamnya.
Pembuktian singkong bisa bekerja sempurna, KNMI mengadakan perjalanan dari Jakarta hingga Surabaya, menggunakan 6 unit mobil berbeda jenis dengan komposisi etanol yang juga berbeda. Proyek pertama memakai Toyota Kijang Super lansiran 1995 dengan kandungan etanol murni 100% sebagai bahan bakar, lalu Toyota Avanza dengan kandungan etanol 75%, dan 4 unit sisanya memakai komposisi etanol 50%.
“Singkong bisa diolah menjadi macam-macam, termasuk etanol yang bisa diperbaharui sehingga ramah lingkungan,” kata Kepala Bidang Ekonomi Komite Nasional Masyarakat Indonesia (KNMI) Endy Priyatna, Senin (24/5/2010) di Jakarta.
Namun, untuk memudahkan kinerja bahan bakar berbahan singkong ini, kendaraan masih memerlukan alat bantu yang berfungsi sebagai converter. “Kalau tidak pakai converter, harus digas terus kendaraan, dengan pakai converter buatan khusus ini jadi lebih cepat proses pembakaran,” ungkap Endy kepada para wartawan.
Converter tersebut diletakkan pada filter bahan bakar sampai ke mesin. “Rencananya converter ini akan dijual dengan harga Rp 120.000,” ungkapnya. Endy berujar, penggunaan converter juga dilatarbelakangi belum adanya teknologi yang mendukung pembakaran untuk biopremium ini dalam standar mesin sekarang.
Penggunaan singkong sebagai bahan bakar kendaraan ini merupakan hasil penemuan S Adibrata, yang kemudian dibantu proses produksinya oleh KNMI.







