“ DESA ADALAH KENYATAAN ”
Bismillahirrahmanirrahiim, Assalamu’ alaikum warahmatullahi wabarakatuh
Desa harus jadi kekuatan ekonomi, Agar warganya tak hijrah ke kota
Walau lahan sudah menjadi milik kota, Bukan berarti desa lemah tak berdaya
Desa adalah kekuatan sejati, Negara harus berpihak pada para petani
Entah bagaimana caranya, Desalah masa depan kita
Keyakinan ini datang begitu saja, Karena aku tak mau celaka
Desa adalah kenyataan, Kota adalah pertumbuhan
Desa dan kota tak terpisahkan, Tapi desa harus diutamakan
Adalah sepotong bait syair lagu desa yang didendangkan iwan fals di album manusia setengah dewa, sungguh sebuah cerminan suara hati yang sangat peduli terhadap negeri ini.
Ketika kita bangga sebagai negara agraris dengan lahan yang subur bahkan diibaratkan oleh koes plus “tongkat kayu jadi makanan” sungguh sedih dan miris hati ini ketika kita melihat data Rata-rata setiap tahun Indonesia mengimpor gula sejumlah 1,6 juta ton, mengimpor sapi sekitar 400 ribu ekor setiap tahun. Pada tahun 2000, impor komoditas pangan seperti gandum, jagung, beras, kedelai, kacang tanah, gula pasir dan bawang putih mencapai nilai Rp 16,62 trilyun. Nilai impor buah segar seperti apel, jeruk, jeruk mandarin dan impor sayuran seperti bawang dan kentang mencapai hampir Rp. 1 trilyun.
Ketika Relawan Pemberdayaan Desa Nusantara (RPDN) mengusung semangat gotong royong, maka teringatlah saya pada ajaran Bung Karno yang menganjurkan kita untuk melaksanakan Tri Sakti yaitu : (1) Berdaulat di bidang politik, (2) Berdikari di bidang ekonomi, dan (3) Berkepribadian di bidang kebudayaan.
Ini adalah titik awal membangun kembali kemandirian bangsa dan awalan yang paling tepat untuk memulai adalah di desa karena didesalah kekuatan ekonomi dapat diandalkan, karena di desalah sumber kekuatan sejati, karena didesalah masadepan kita sebagi sebuah kenyataan. (intisari syair desa – Iwan Fals ).
Semangat gotong royong yang ada dan tumbuh di desa walaupun kini mulai memudar, haruslah dibangkitkan kembali sebagai kepribadian bangsa yang pada akhirnya berdikari di bidang ekonomi yang pada akhirnya akan mendukung kedaulat di bidang politik.
Sebagai negara agraris dengan lahan pertanian ada di desa maka harus jelas dan tegas keberpihakan kita kepada desa. Desa dalam artian masyarakatnya, aparatnya dan segala yang di dalamnya.
Ketika lautan digambarkan sebagi kolam susu oleh Koes Plus, maka kesadaran kita juga harus bangkit atas potensi laut yang sangat luar biasa untuk kemakmuran masyarakat. Negara Indonesia jangan diartikan sebagai negara yang terdiri dari beribu ribu pulau yang”dipisahkan”oleh laut dan selat, akan tetapi haus dilihat sebagai negara kepulaluan yang “dipersatukan” oleh laut dan selat. Hal ini akan menjadikan kita melihat potensi laut sebagi pemersatu bukan sebagi pemisah antar warga.
Desa sebagai kesatuan masyarakat terkecil bukanlah berarti boleh terabaikan, desa harus menjadi pusat pertumbuhan dan kekuatan baik ekonomi, sosial budaya maupun hankam. Masyarakat desa dengan para tokohnya haruslah diberi peran yang besar dalam pembangunan nasional.
Dengan segala keterbatasan SDM yang dimiliki, harus disadari sebagai sebuah peluang untuk diberdayakan dan diberi penguatan oleh segenap elemen masyarakat khususnya para akademi dan pengambil kebijakan.
Saatnya Indonesia Membangun, Saatnya Membangun Desa.
Jakarta, Pebruari 2008








